Monday, October 15, 2007

Getting There

Getting There
By Yanki Tauber

One day, a visitor arrived at the home of Rabbi DovBer, the Maggid of Mezeritch. The visitor was an old friend of Rabbi DovBer's, who had studied with him in their youth. With great interest he observed the behavior of his former study-partner, who had since become a follower of the founder of Chassidism, Rabbi Israel Baal Shem Tov, and had assumed the leadership of the Chassidic community upon the latter's passing.
The visitor was particularly struck by the amount of time that the Chassidic master devoted to his prayers. He himself was no stranger to reflective prayer: when he and Rabbi DovBer had studied together, they had pored over the mystical teachings of the Kabbalists and would pray with the prescribed meditations, or kavanot, outlined in the writings of Kabbalah. But never in his experience had prayer warranted such long hours.
"I don't understand," he said to Rabbi DovBer, "I, too, pray with all the kavanot of the mystics. But still, my prayers do not take nearly as much time as yours do."
Rabbi DovBer's visitor was a dedicated scholar. His wife ran the family business so that he could devote all his time to Torah study. Only once a year was he forced to break from his studies for a few weeks: his wife would give him a list of the merchandise she needed and he would travel to the fair in Leipzig to wheel and deal.
"Listen," said Rabbi DovBer to his visitor, "I have an idea for you. Why must you waste precious weeks of study every year? This year, sit at home. Envision the journey to Leipzig in your mind's eye: picture every station along the way, every crossroads, every wayside inn. Then, imagine that you are at the fair, making your rounds at the booths. Call to mind the merchants that you deal with, reinvent the usual haggling and bargaining that follows. Now, load your imaginary purchases upon your imaginary cart and make the return journey. The entire operation should not take more than a couple of hours and then you can return to your beloved books!"
"That is all fine and well," replied Rabbi DovBer's friend, "but there remains one slight problem: I need the merchandise."
"The same is true with prayer and its kavanot," said Rabbi DovBer. "To envision a particular attribute of G-d in its prescribed section of the prayers, or to refer to a certain nuance of emotion in your heart at a particular passage, is all fine and well. But you see, I need the merchandise...."

Menu Bakmie GM




Thursday, October 4, 2007

L'Appartment

ci Nan lagi sarapan

foto dari pintu belakang

temapt parkiran samping

Balkon apartemen kita yg lantai 4, dihitung dari dasar.


itu yang lampunya lagi nyala


a mezuzah at the doorpost

meja makan dan dapur

kamar kita pintunya terbuka


Bedroom


Meja makan dan Ruang Duduk


Pemandangan dari Balkon


Monday, August 13, 2007

Tuesday, November 14, 2006

SEJARAH BOGOR
Ada beberapa pendapat atas asal-usul penamaan kota Bogor. Pendapat pertama mengatakan bahwa nama Bogor itu berasal dari salah ucap orang Sunda untuk Buitenzorg. Buitenzorg adalah nama resmi Bogor pada masa penjajahan Belanda. Pendapat kedua, nama Bogor berasal dari kata baghar atau baaqar yang berarti sapi. Alasannya, karena didalam Kebun Raya ada sebuah patung sapi. Pendapat ketiga menyatakan, nama Bogor itu dari kata Bokor yaitu sejenis bakul logam tanpa alasan yang jelas. Pendapat keempat, nama bogor itu asli karena nama bogor berarti tunggul kawung, enau atau aren. Pendapat ini ditemukan dalam pantun yang berjudul "Ngadegna Dayeuh Pajajaran" yang dituturkan Pak Cilong. Pada masa ibukota kerajaan Pajajaran dibumihanguskan pasukan Banten, pada tahun 1579, disebutkan bahwa seluruh ibukota kerajaan dihancurkan dan penduduknya dibunuh atau diusir. Pada saat kekuasaan Mataram atas Priangan lepas ke tangan VOC di tahun 1705, serta kemerdekaan Banten berakhir pada tahun 1695 dan berada dibawah kontrol VOC, wilayah bekas ibukota Pajajaran termasuk dalam pengawasan kekuasaan VOC. Bertolak dari uraian terdahulu dapatlah dikatakan bahwa kedudukan Bogor itu pada awalnya termasuk dalam lingkup Kerajaan Pajajaran, bahkan di tempat itulah letaknya ibukota kerajaan. Setelah sekian lama hilang dari percaturan historis yang berarti kurang lebih selama satu abad sejak 1579, kota yang pernah berpenghuni 50.000 jiwa itu menggeliat kembali menunjukkan ciri-ciri kehidupan. Reruntuhan kehidupannya mulai tumbuh kembali berkat ekspedisi yang berturut-turut dilakukan oleh Scipio pada tahun 1687, Adolf Winkler tahun 1690 dan Abraham van Riebeeck tahun 1704, 1704 dan 1709. Dalam memanfaatkan wilayah yang dikuasainya, VOC perlu mengenal suatu wilayah tersebut terlebih dahulu. Untuk meneliti wilayah dimaksud, dilakukan ekspedisi pada tahun 1687 yang dipimpin Sersan Scipio dibantu oleh Letnan Patinggi dan Letnan Tanujiwa, seorang Sunda terah Sumedang. Dari ekspedisi tersebut serta ekspedisi lainnya, tidak ditemukannya pemukiman di bekas ibukota kerajaan, kecuali di beberapa tempat, seperti Cikeas, Citeureup, Kedung Halang dan Parung Angsana. Pada tahun 1687 juga, Tanujiwa yang mendapat perintah dari Camphuijs untuk membuka hutan Pajajaran, akhirnya berhasil mendirikan sebuah perkampungan di Parung Angsana yang kemudian diberi nama Kampung Baru. Tempat inilah yang selanjutnya menjadi cikal bakal tempat kelahiran Kabupaten Bogor yang didirikan kemudian. Kampung-kampung lain yang didirikan oleh Tanujiwa bersama anggota pasukannya adalah: Parakan Panjang, Parung Kujang, Panaragan, Bantar Jati, Sempur, Baranang Siang, Parung Banteng dan Cimahpar. Dengan adanya Kampung Baru menjadi semacam Pusat Pemerintahan bagi kampung-kampung lainnya. Dokumen tanggal 7 November 1701 menyebut Tanujiwa sebagai Kepala Kampung Baru dan kampung-kampung lain yang terletak di sebelah hulu Ciliwung. Dengan demikian, Tanujiwa telah ditunjuk sebagai pemimpin kaum koloni di daerah itu. Atas dasar itulah, De Haan memulai daftar bupati-bupati Kampung Baru atau Buitenzorg dari tokoh Tanujiwa (1689-1705), walaupun secara resmi penggabungan distrik-distrik baru terjadi pada tahun 1745. Pada tahun 1745 sembilan buah kampung digabungkan menjadi satu pemerintahan dibawah Kepala Kampung Baru yang diberi gelar Demang. Gabungan kesembilan kampung inilah yang disebut Regentschap Kampung Baru yang kemudian menjadi Regentschap Buitenzorg. Pada tahun 1740, sewaktu masa pemerintahan Gubernur Jenderal Baron van Imhoff, dibangunlah tempat peristirahatan, pada lokasi Istana Bogor sekarang yang diberi nama Buitenzorg. Dari waktu ke waktu, villa tersebut terus berkembang dengan pesat baik dari sisi fisik maupun fungsinya. Pada tahun 1754, Bupati Kampung Baru, Demang Wiranata mengajukan permohonan kepada Guubernur Jenderal Jacob Mossel agar diijinkan mendirikan rumah tempat tinggal di Sukahati, terletak di Timur Cisadane dekat Cipakancilan yang lokasinya dekat empang besar. Nama Empang selanjutnya berangsur-angsur mendesak nama Sukahati, yang akhirnya pada tahun 1815 secara resmi nama daerahnya adalah Empang. Dengan dibukanya jalur hubungan kereta api Batavia-Buitenzorg pada tahun 1873, sangat mempengaruhi mobilitas sosial dan perekonomian kota. (Penulis: Mumuh Muhsin Z, Sejarah Kota-kota Lama di Jawa Barat, tahun 2000)